![]() |
| Ilustrasi Banjir (Foto: Istimewa) |
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda, Nasrol Adil, mengatakan, dalam suratnya ia menyebutkan adanya gangguan atmosfer, yaitu pola siklonik yang membentuk daerah belokan angin dan konvergensi di wilayah Aceh.
"Kami sampaikan informasi siaga bencana hidrometeorologi berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang, yang dapat menyebabkan bencana angin kencang, banjir, tanah longsor, dan bencana lainnya," katanya saat dikonfirmasi, pada Jumat (10/4/2026).
Nasrol menjelaskan, berdasarkan pantauan prakiraan angin lapisan 3.000 feet, terdapat adanya potensi belokan angin dan konvergensi di wilayah Provinsi Aceh.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah shearline dan konvergensi yang dapat menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir/kilat dan angin kencang.
Adapun wilayah yang berpotensi bencana hidrometeorologi tersebar di seluruh daerah 23 kabupaten/kota di Aceh.
Namun, ancaman itu terbagi dalam dua periode, yaitu periode pertama 11-15 April dan periode kedua 16-20 April 2026.
Wilayah berpotensi bencana pada periode pertama ialah Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Banda Aceh, Bireuen, Langsa, Lhokseumawe, Pidie Jaya, Sabang, dan Simeulue.
