![]() |
| Hijriati Meutia Dahlan |
Oleh: Hijriati Meutia Dahlan
Pada suatu hari, seorang siswa menemui saya dan bercerita tentang kondisi Kesehatan mentalnya. Ia mengaku bahwa masalah hidup yang kerap ia alami membuatnya cemas, sulit untuk fokus dan tidak mampu mengontrol suasana hati. Bahkan ketidakstabilan kondisi psikologis yang ia alami juga mempengaruhi kondisi fisiknya.
Setelah cukup lama berdiskusi, saya menyarankan siswa tersebut untuk mempraktikkan teknik mindfulness sederhana yang bisa ia lakukan sendiri tanpa bantuan terapis, psikolog atau psikiater.
Berdasarkan penelitian dari beberapa ahli praktik ini dipercaya bisa mengurangi stress, membuat seseorang lebih tenang, dapat meningkatkan fokus dan kepekaan terhadap sekitar, lebih bijak dalam merespon situasi serta bisa membuat individu lebih mencintai diri sendiri (www.mind.org.uk)
Lantas apa itu mindfulness dan bagaimana praktik ini bekerja? Kata mindfulness sendiri pertama kali dikenal pada tahun 1995 sebagai salah satu teknik meditasi yang sering dipraktikkan dalam kepercayaan Budha (https://www.etymonline.com).
Namun hari ini teknik ini sudah sangat menjamur dan tidak lagi dikaitkan dengan agama dan kepercayaan manapun.
Ditinjau dari sisi makna, mindfulness sendiri diartikan sebagai proses psikologis yang membuat perhatian seseorang fokus pada present moment atau masa sekarang.
Artinya, seseorang yang melakukan praktik mindfulness akan hadir pada setiap aktifitas yang ia lakukan, misal: menikmati es krim saat ia sedang makan es krim, menikmati hangatnya matahari pagi saat ia sedang berjalan dipagi hari atau tertawa lepas dan bahagia saat ia sedang berkumpul bersama keluarga.
Mungkin contoh-contoh ini terlihat mudah dan sederhana, namun tak dapat dipungkiri bahwa sangat banyak orang yang tidak bisa menikmati bahagianya hal-hal kecil karena tekanan dari masalah hidup yang dihadapi.
Mereka akan sulit untuk mengidentifikasi emosi dari setiap momen hidup yang dijalani karena tidak hadir secara penuh pada momen-momen tersebut. Sederhananya, bukankah akan sangat menyedihkan jika tak bisa menikmati akhir pekan karena mengingat bahwa Senin akan kembali datang?
Begitulah sekilas penjelasan tentang konsep mindfulness. Namun perlu diingat pula bahwa mempraktikkan mindfulness bukan berarti seseorang hanya hidup dimasa sekarang dan mengabaikan masa depan.
Mempraktikkan konsep ini berarti kita hidup secara penuh pada masa sekarang dan melakukan apapun yang terbaik sebagai bentuk optimisme bahwa kejadian baik akan terjadi dimasa depan.
Konsep ini melatih kita untuk menerima bahwa masa lalu sampai kapanpun ada dibelakang kita, dan menyesalinya hanya akan membuat kita tersesat dalam pusaran waktu yang harusnya bisa digunakan untuk memperbaiki diri dan menikmati apa yang kita jalani sekarang.
Bahkan untuk individu dengan tingkat mindfulness yang tinggi, ia akan hadir dan menikmati setiap momen dalam hidupnya dengan penuh refleksi, baik itu tentang hubungannya dengan sesama manusia, alam dan Allah Subhanahu wa ta'ala.
Refleksi yang mendalam akan mengantarkan kita pada pemaknaan akan hidup yang lebih mendasar yang jika dirasakan dengan perlahan akan menimbulkan kelegaan dan kebahagiaan.
Untuk menguasainya, teknik mindfulness ini tentu perlu dilatih. Melatihnya bisa dengan menggunakan waktu 3-5 menit setiap hari untuk benar-benar fokus dan hadir secara fisik dan mental pada aktifitas yang sedang dilakukan.
Misalnya kita memilih untuk mempraktikkan mindfulness saat sedang makan sepiring mie Aceh, kita bisa memulainya dengan memilih tempat yang nyaman, berdoa dan mulai menikmati setiap sensasi yang dirasakan oleh lidah kita.
Usahakan untuk tidak mengiringi momen makan ini dengan aktifitas lain, seperti membaca, main handphone dan lain sebagainya.
Lebih jauh, kita bisa merefleksikan rasa syukur karena bisa memakan sebuah hidangan enak dan memiliki kemampuan serta akses yang mudah untuk mendapatkannya. Selain cara ini, bagi seorang muslim ada cara lain yang juga sangat ampuh untuk mempraktikkan teknik ini, yaitu dengan melakukan ibadah shalat.
Shalat yang berkualitas akan dicapai saat seseorang mampu menghadirkan kesadaran tinggi yang kita kenal dengan istilah khusyuk. Khusyuk berarti hadir baik secara perbuatan maupun pikiran dalam setiap rukun sholat yang kita kerjakan.
Praktik ini tentu tidak mudah mengingat pikiran manusia yang dapat menyerap dan mengolah informasi hampir sepanjang waktu, tak terkecuali saat melaksanakan sholat.
Banyak sekali hal yang akan bermunculan dalam pikiran, kompor yang belum dimatikan, kunci rumah yang sempat hilang, atau memikirkan masak apa untuk ide makan siang.
Padahal, jika kita mampu untuk khusyuk selama 5-10 menit saja tidak hanya diganjar pahala, moment tersebut juga bisa kita manfaatkan untuk mempraktikkan teknik mindfulness yang akan sangat berguna untuk Kesehatan mental manusia.
Sebagai penutup, mari sadari bahwa saat ini kita hidup pada satu periode waktu di mana banyak hal terjadi dan berubah dengan sangat cepat.
Bahkan saat kita merasa sudah berlari kencang pun akan selalu ada hal yang tidak bisa kita capai, dan hal ini sering kali menimbulkan perasaan hampa dan ketidakpuasan atas berbagai hal yang sebenarnya telah kita lakukan.
Maka dari itu sangat penting bagi seorang individu untuk hidup tanpa merasa diburu dan menikmati setiap momen dengan sadar dan penuh dengan pemaknaan, semoga dengan demikian kebahagian bisa kita capai.
* Penulis adalah Konselor Sekolah Sukma Bangsa Bireuen
