Banda Aceh - 29 September 2026. Keluarga Besar Alumni Sekolah Sukma Bangsa menyampaikan keprihatinan dan duka mendalam atas meninggalnya Muhammad Rasya Fadilla, taruna/mahasiswa Program Diploma III (D-III) Studi Nautika Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh yang meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, pada Ahad, 27 September 2026 sekitar pukul 16.14 WIB. Ia disebut meninggal saat mengikuti tahapan orientasi studi dan pengenalan kampus (Ospek) yang digelar oleh lembaga pendidikan tersebut.


Muhammad Rasya Fadilla merupakan putra asal Kota Lhokseumawe dan merupakan alumni Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Dalam perjalanan pendidikannya, Rasya dikenal sebagai bagian dari lingkungan pendidikan Sukma Bangsa Lhokseumawe sebelum melanjutkan pendidikan ke Poltekpel Malahayati Aceh.

Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe juga memuat tulisan perjalanan pendidikan Rasya yang menggambarkan pengalamannya sejak SD hingga jenjang SMA di Sukma Bangsa serta cita-citanya melanjutkan pendidikan di sekolah pelayaran.

Sebelum dirujuk ke rumah sakit, Rasya dilaporkan mengalami demam tinggi dan nyeri tenggorokan serta kemudian mengalami munculnya ruam kemerahan pada tubuhnya.

Polresta Banda Aceh saat ini masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui secara utuh rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum Rasya meninggal dunia. Polisi juga telah berkoordinasi dengan dokter forensik dan melakukan pemeriksaan luar melalui visum et repertum serta CT scan. Penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan forensik.

Namun menurut pengakuan dari ibu korban Nurlaila (47) mengatakan hidung putranya patah dan memar dibeberapa bagian tubuh, menurutnya itu sangat janggal. Terlebih korban tidak pernah memiliki riwayat alergi sejak dari kecil sebagaimana diberitakan sebelumnya oleh pihak rumah sakit melalui dokter yang menangani korban ketika di rumah sakit

“Di tubuhnya kami melihat ada lebam, seperti di bagian leher, tangan, dan di bawah perut. Sesampainya di rumah, kami juga melihat bagian tengah hidungnya memar dan patah,”

Kecaman terhadap Segala Bentuk Kekerasan di Dunia Pendidikan

Keluarga Besar Alumni Sekolah Sukma Bangsa mengecam segala bentuk kekerasan dalam lingkungan pendidikan, baik kekerasan fisik maupun bentuk kekerasan lainnya.

Namun demikian, kami menegaskan bahwa dugaan adanya kekerasan terhadap Rasya harus dibuktikan melalui proses penyelidikan dan pembuktian yang objektif, transparan, serta sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Tegas Dwi Abdullah yang merupakan Alumni Sekolah Sukma Bangsa angkatan pertama 2006

Apabila dalam proses penyelidikan dan pembuktian nantinya ditemukan adanya tindak kekerasan atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pihak tertentu, termasuk apabila melibatkan senior, maka pihak yang terbukti bertanggung jawab harus diproses sesuai hukum dan diberikan sanksi tegas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kami mendukung aparat penegak hukum untuk mengusut perkara ini secara menyeluruh, terbuka, dan profesional agar seluruh fakta dapat terungkap serta tidak meninggalkan pertanyaan bagi keluarga korban maupun masyarakat.

Pendidikan Harus Menjadi Ruang yang Aman

Dunia pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman bagi setiap peserta didik dan taruna untuk belajar, bertumbuh, membangun karakter, serta mewujudkan cita-cita.

Tidak boleh ada praktik kekerasan yang dibenarkan atas nama pembinaan, senioritas, kedisiplinan, tradisi, ataupun alasan lainnya apabila praktik tersebut melanggar hukum dan merendahkan martabat manusia.

Kepergian Muhammad Rasya Fadilla menjadi duka bagi keluarga, sahabat, dan seluruh pihak yang mengenalnya. Bagi keluarga besar Sekolah Sukma Bangsa, Rasya bukan sekadar nama dalam sebuah pemberitaan, tetapi bagian dari perjalanan panjang keluarga pendidikan Sukma Bangsa Lhokseumawe.

Karena itu, kami menyerukan:

Usut tuntas.
Ungkap seluruh fakta.
Tegakkan hukum secara adil.
Hentikan segala bentuk kekerasan di dunia pendidikan.

-Keluarga Besar Alumni Sekolah Sukma Bangsa-