![]() |
Peserta Musyawarah Besar (Mubes) II IKMAB Yogyakarta di Aula Balee Gadeng, Sagan, Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026). |
Mubes II IKMAB Jogja berlangsung di Aula Balee Gadeng, Sagan, Yogyakarta, pada Sabtu, 25 April 2026, dengan mengusung tema "Lam Mufakat Syedara Ta Peukong", sebuah ungkapan dalam bahasa Aceh yang bermakna: dalam mufakat, saudara saling menopang. Tema ini bukan dipilih secara kebetulan. Ia merupakan pengingat sekaligus tantangan bagi seluruh anggota bahwa keberlanjutan organisasi hanya mungkin terjaga jika dibangun di atas kesepakatan yang tulus dan kebersamaan yang nyata.
Rangkaian acara dimulai sejak siang hari dengan nuansa yang jauh dari formalitas sidang. Para peserta terlebih dahulu memasak bersama kuliner khas Bireuen sie itek dan mie caluk, sebuah pilihan yang sarat makna: menghidupkan kembali cita rasa kampung halaman sebagai cara paling organik untuk mempererat rasa persaudaraan sebelum memasuki forum inti. Pada malam harinya, suasana beralih menjadi lebih serius, ketika peserta berkumpul untuk mengevaluasi perjalanan organisasi dan merumuskan strategi gerak ke depan.
Ketua panitia pelaksana, Nawal Aska, S.I.P., M.Sos., M.A dalam laporannya menegaskan bahwa Mubes II merupakan momentum yang bersifat sekaligus reflektif dan strategis bagi IKMAB Jogja. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. "Kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur, khususnya teman-teman IKMAB Jogja yang selalu menunjukkan antusiasme, serta kepada Bapak Muslim, M.Si selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen, dan Tgk. Nurdin M.Juddon (Abi Nas Jeunib) sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Aceh periode saat ini, serta kepada PT. Pintu Investama Nusantara" ujarnya.
Aska juga menyoroti sesuatu yang tidak kalah penting: partisipasi anggota, baik yang berdomisili di Yogyakarta maupun yang berada di luar daerah, menunjukkan adanya komitmen kolektif yang masih hidup untuk menjaga eksistensi organisasi. Namun ia menekankan bahwa forum ini tidak boleh berhenti pada tataran wacana, langkah konkret adalah yang paling ditunggu.
Dalam sambutannya, Ketua IKMAB Jogja Khairil. Anwar, S.H., M.A memaparkan bahwa organisasi ini resmi berdiri pada 10 Maret 2025, digagas oleh mahasiswa asal Kabupaten Bireuen yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Dalam perjalanan tepat satu tahunnya, IKMAB Jogja dinilai telah berhasil membangun dukungan dari berbagai kalangan, meski sejumlah tantangan masih membutuhkan penanganan yang lebih serius.
Ia menaruh harapan besar pada siapa pun yang akan memegang tongkat kepemimpinan berikutnya. "Harapannya, siapa pun yang akan memimpin pada periode berikutnya mampu membawa IKMAB Jogja menjadi lebih terhubung dengan berbagai organisasi mahasiswa lain di Yogyakarta. Dari situ, diharapkan lahir inovasi-inovasi baru yang dapat memperkuat peran organisasi," katanya.
Mubes II ini turut dihadiri oleh perwakilan dari sejumlah paguyuban mahasiswa Aceh di Yogyakarta, di antaranya Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Aceh Barat (IKAMABAR) Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa dan Mahasiswa Aceh Tenggara Yogyakarta (IKAMARA) Yogyakarta, serta perwakilan ketua Asrama Sabena. Kehadiran mereka bukan sekadar wujud solidaritas antarpaguyuban, melainkan juga sinyal bahwa ekosistem organisasi mahasiswa Aceh di Yogyakarta memiliki potensi jaringan yang, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi kekuatan kolektif yang lebih besar.
Mubes II IKMAB Jogja menjadi forum yang melampaui sekadar agenda formal pergantian kepemimpinan. Ia adalah ruang uji bagi sebuah organisasi yang baru menapaki tahun pertamanya untuk membuktikan apakah ia mampu merumuskan arah yang lebih terstruktur dan bergerak lebih progresif, atau sebaliknya, terjebak menjadi wadah yang hanya hidup di momen-momen seremonial. Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan ditemukan di dalam aula musyawarah, melainkan dalam tindakan nyata yang menyusul setelahnya.

