![]() |
| Erlinawati |
Oleh: Erlinawati, S.Si
Tidak akan pernah selesai jika kita bicara tentang sampah. Selama kehidupan masih berjalan, selama itu juga sampah akan terus menjadi topik yang hangat untuk diulas. Sampah akan terus menjadi permasalahan serius untuk kehidupan karena sampah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sendiri.
Menilik dari pengertiannya, sampah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses. Bisa berasal dari proses produksi industri, rumah tangga, pasar, dan sebagainya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Worl Health Organization (dalam Chandra,2006) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Sampah akan berdampak buruk bagi kehidupan jika dibiarkan terus menerus. Misalnya, sampah yang bertumpuk akan mengeluarkan bau busuk akibat tidak mengalami penghancuran. Bau tersebut sangat mengganggu lingkungan juga kesehatan makhluk hidup.
Sampah yang sudah bertumpuk dalam waktu lama akan menjadi sarang pengembangbiakan berbagai organisme penyebab penyakit seperti virus bakteri, lalat, belatung, bahkan anjing dan kucing. Hewan-hewan tersebut berperan sebagai perantara yang mengakibatkan penularan penyakit kepada manusia.
Jika tumpukan sampah tersebut terletak dekat dengan pemukiman, sudah pasti menimbulkan berbagai penyakit, seperti cacingan, jamur, tifus, diare, hepatitis A, dan kolera.
Tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan manusia, sampah juga berakibat fatal terhadap lingkungan di sekitarnya. Sampah menyebabkan pencemaran ekosistem sungai seperti ikan yang hidup di dalam air. Hal ini tentunya akan menyebabkan kematian pada ikan. Penumpukan sampah juga bisa memicu bencana alam seperti banjir.
Sampah di wilayah perairan juga banyak disumbang dari industri kimia yang membuang sisa material produk ke laut atau sungai. Walaupun sampah dari sektor tersebut dianggap tidak berbahaya karena bersifat organik, tetapi pada kenyataannya limbah dari bahan kimia itu juga sedikit banyak membawa masalah untuk kehidupan manusia. Selain itu, Sampah yang terus bertumpuk dalam waktu lama juga akan berimbas pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Permasalahan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masalah tersebut juga menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Banyak solusi yang ditawarkan untuk menanggulangi masalah tersebut, salah satunya dengan cara pengelolaan sampah yang tepat melalui 3 prinsip, yaitu reduce, reuse dan recycle atau pengurangan, penggunaan kembali dan daur ulang sampah (Faizah,2008) Ada beberapa tips pengelolaan sampah yang bisa kita lakukan.
Langkah ini bisa kita mulai dari rumah, yakni dengan mengganti penggunaan kantong plastik dengan tas atau keranjang belanja untuk belanja. Tidak dapat dimungkiri bahwa kantong plastik bisa dikatakan penyumbang nomor wahid sampah dari rutinitas produksi rumah tangga.
Selanjutnya, mengganti sterefoam dengan kotak bekal yang sifatnya permanen juga bisa menjadi jalan keluar pengurangan sampah. Membawa botol minum sendiri juga menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi pembelian air minum atau minuman dalam kemasan botol plastic.
Terakhir, tidak membeli hal yang tidak perlu, terutama yang berpotensi menghasilkan sampah seperti bungkusan makanan dan lainnya.
Tahap selanjutnya setelah mencegah sampah adalah melakukan pilah sampah.
Sebaiknya sampah dipisahkan menurut jenisnya. Saran yang bisa digunakan adalah dengan membaginya menjadi sampah B3 (Bahan beracun dan berbahaya), anorganik, dan organik. Sampah B3 merupakan singkatan dari Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Suatu barang digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia, merusak lingkungan, dan mengancam kelangsungan hidup manusia serta organisme lainnya. Karakteristik limbah B3 berdasarkan PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Pasal 5 adalah mudah meledak, mudah menyala, reaktif, infeksius, korosif, dan beracun.
Sampah anorganik adalah sampah yang bisa didaur ulang seperti kertas, kardus, atau botol plastik bisa dijual kepada pemulung atau bank sampah, sedangkan sampah organik seperti sayur dan buah bisa dikumpulkan sebagai bahan baku pupuk kompos. Langkah lain dari manajemen sampah rumah adalah dengan mengolah sampah.
Langkah yang bisa dilakukan antara lain dengan menyerahkannya ke pengepul, pemulung, atau bank sampah untuk jenis sampah, seperti kardus, kertas, atau botol plastik yang tentunya masih dalam kondisi baik.
Selain itu, apabila masih terdapat sampah plastik yang tidak diterima oleh bank sampah, dapat dibuat menjadi Ecobricks dengan menggunakan botol plastik dan sampah plastik tadi.
Pengelolaan Sampah di Sekolah
Sekolah Sukma Bangsa Bireuen saat ini tengah berupaya untuk meminimalkan sampah dari pembungkus makanan dan minuman dengan mengupayakan pemakaian kertas dan daun sebagai pembungkus makanan. Untuk botol plastic sendiri, semua siswa dari setiap kelas untuk jenjang SD, SMP dan SMA mengumpulkannya untuk ditukarkan ke Bank sampah yang dikelola oleh tim Green School Project.
Menurut Cecep Dani Sucipto, 2012 Bank sampah merupakan model pengelolaan keuangan di bank pada umumnya. Siswa menabung dalam bentuk sampah. Sistem yang dilakukan pada bank sampah ini adalah siswa sebagai nasabah bank dari tiap kelas memasokkan sampah yang telah dipilah kemudian diterima oleh petugas penimbangan dan dicatat di buku tabungan serta dikumpulkan sebagai kas bersama di kelas.
Harga sampah yang tertulis pada buku tabungan sesuai dengan harga yang diberikan oleh pengepul. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran siswa dan membangun kebiasaan siswa dalam mengurangi, memilah dan mendaur ulang sampah serta dapat mengurangi jumlah sampah yang ada di sekolah.
Selain itu ada kolaborasi dari beberapa guru mapel untuk pembuatan pupuk kompos dari sisa makanan, kompos dari daun kering dan Ecobricks. Untuk itu marilah kita mulai untuk mengurangi sampah setidaknya dari diri kita sendiri dan keluarga kita serta upayakan untuk membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Mari menjaga kebersihan dengan meminimalisasi efek samping dari sampah demi kebersihan lingkungan tempat tinggal kita dan kenyamanan hidup bermasyarakat.
)* Penulis adalah Guru Biologi SMA Sukma Bangsa Bireuen.
