![]() |
| Nurlaili |
Oleh: Nurlaili, S.Si
"Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa." Itulah sepenggal hymne guru yang sering kita dengar. Besar sekali makna dibalik susunan lirik dalam bait-bait lagu tersebut. Kurang lebih, penggalan lirik tersebut dapat dimaknai bahwa guru adalah seorang pengajar yang mengajarkan kita dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Harapannya, apa yang diajarkan hari ini dapat menolong sang murid kelak di hari depannya.
Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi jika itu guru Sekolah Dasar (SD). Banyak anggapan yang beredar di masyarakat bahwa menjadi guru SD sangat gampang. Entah dari sudut mana mereka melihat itu. Mereka lupa bahwa tugas seorang guru bukan menjejalkan pelajaran kepada peserta didiknya.
Seorang guru harus memiliki kemampuan untuk menghidupkan pengetahuan. Apalagi lagi di SD, yang dihadapi guru adalah anak-anak usia dini yang masih membutuhkan pendampingan.
Menjadi Guru Kelas
Guru SD sering disebut dengan guru kelas. Karena guru kelas, mereka harus memahami materi-materi dasar pada semua pelajaran, baik itu konsep maupun praktik. Tidak sampai di situ, kreativitas dalam mentransfer ilmu-ilmu tersebut kepada sang murid juga harus mereka miliki sehingga materi yang diberikan dapat diterima siswa dengan baik.
Peran guru SD tidak hanya sebatas mentransfer materi kemudian siswa mencatat dan mengerjakan evaluasi, tapi juga harus menjadi seseorang yang kreatif. Oleh karena itu, tidak sembarang orang bisa menjadi guru SD.
Dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru SD wajib punya 1001 jurus untuk menyajikan pembelajaran yang menyenangkan kepada peserta didiknya. Misalnya, sebelum memaparkan materi, guru memberikan ice breaking yang berbeda-beda setiap waktunya, sehingga siswa tertarik untuk belajar kembali pada pertemuan selanjutnya.
Bahkan, di tengah-tengah pembelajaran, guru juga harus kreatif menyajikan ice breaking untuk mengembalikan focus siswa.
Guru harus mencari cara agar pembelajaran tersampaikan dengan baik. Di sinilah peran penting kreativitas guru dituntut.
Pada jenjang pendidikan sekolah dasar guru dapat menyampaikan materi melalui tayangan video, nyanyian, bahkan gerakan. Siswa harus mempraktikkan pembelajaran yang didapatkannya karena mereka belum sepenuhnya bisa berpikir hal-hal yang abstrak.
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indra daripada hanya mendengarkan penjelasan dari guru. Hal ini senada dengan yang disampaikan seorang filsuf Cina Confucius “Aku dengar dan Aku lupa, Aku lihat dan Aku ingat, Aku lakukan dan Aku mengerti.”
Menjadi Wali Kelas
Selain mahir dalam menyampaikan pembelajaran, seorang guru SD juga diharapkan cakap dalam mengelola kelasnya. Sebagai wali kelas guru SD berperan besar dalam pembentukan sikap dan kemampuan anak.
Di level SD anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama wali kelasnya. Banyak moment yang bisa dilakukan bersama wali kelas, seperti mendekorasi kelas, membersihkan lingkungan kelas, bahkan sarapan bersama.
Sebagai fasilitator, wali kelas diharapkan dapat memfasilitasi siswanya saat mengikuti suatu kegiatan. Tentunya peran sebagai motivator juga harus sepaket di dalamnya.
Sang wali kelas dapat memotivasi agar muncul keinginan dari diri siswa untuk meningkatkan minat belajar. Tidak hanya pada minat belajar, wali kelas juga bisa memotivasi anak-anak kelasnya mengikuti suatu perlombaan untuk melatih keberanian peserta didiknya.
Dalam hal literasi juga, wali kelas diharapkan lihai menumbuhkan minat baca anak. Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh wali kelas di murid sekolah dasar, yaitu mengapresiasi setiap anak. Apresiasi bisa berupa pujian atau hadiah sederhana yang akan diingat siswa sepanjang waktunya.
Siapa yang tidak suka dengan pemberian apresiasi? Jangankan anak-anak, orang dewasa pun senang saat diberikan pujian apalagi hadiah.
Di mata peserta didik dasar, guru dan wali kelasnya adalah “artis”. Segala sesuatu yang berhubungan dengan guru akan menjadi sorotan oleh anak didiknya.
Bahkan dalam hal sederhana sekalipun siswa sangat kritis terhadap penampilan gurunya. Seperti cara berpakaian, cara memakai jilbab, cara berbicara, bahkan cara memposting tulisan di media sosial sekalipun pasti akan menjadi sorotan anak-anak. Semua guru juga harus memperhatikannya.
Menjadi guru SD tidak boleh biasa-biasa saja. Totalitas dalam menjalankan peran sangat diharapkan. Guru harus banyak mendengar daripada berbicara. Hal sekecil apapun perlu diluruskan dengan sejelas-jelasnya.
Bahkan kadang kala anak-anak menganggap bahwa gurunya itu lebih benar daripada orang tuanya sendiri. Aneh memang, anak-anak lebih percaya kepada gurunya daripada orangtuanya.
Padahal orangtua di rumah juga banyak menasehati dan mengajari si anak. Namun, kenyataannya terlihat di mata mereka bahwa gurunya lebih memesona.
Banyak orang berkata bahwa menjadi guru SD membuat kita terlihat lebih awet muda. Saya sebagai guru Sekolah Dasar di SD Swasta Sukma Bangsa Bireuen juga mengakui itu. Bagaimana tidak? Tingkah jenaka anak-anak menjadi hiburan tersendiri bagi guru.
Semakin sering kita tersenyum dan tertawa akan mengendorkan saraf yang kaku sehingga kita akan terlihat lebih bahagia, ceria, dan bersemangat. Anda mau awet muda? Yuk jadi guru SD.
Selain itu, hal luar biasa lainnya menjadi guru SD adalah peran kita akan dikenang hingga mereka tumbuh dewasa. Kenangan masa kecil merupakan hal yang sangat sulit dilupakan oleh semua orang.
Ketahuilah salah satu hal yang paling membahagiakan bagi seorang guru adalah saat murid mengingat dan mengenang kita meskipun sudah bertahun-tahun lamanya. Untuk itu, mari kita tanamkan kenangan yang baik bagi murid kita dengan menjadi guru yang luar biasa bagi mereka.[]
)* Penulis adalah Guru Sekolah Dasar (SD) Sukma Bangsa Bireuen dan Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum.
