Herlina Sari

Oleh: Herlina Sari, S.Si


Hakikatnya, ilmu dasar berhitung yang kerap disebut dengan Matematika, tidak bisa lepas dari kehidupan. Segala hal yang kita lihat, sentuh, dan bicarakan, tanpa sadar ada kaitannya dengan ilmu tersebut. Bentuk laptop, sudut-sudut ruangan, hingga takaran bumbu dan garam saat memasak pun, ilmu ini sangat berperan di sana. 


Bahkan, matematika bisa membuat seseorang memiliki persepsi baru terhadap suatu persoalan. Ini bukti nyata keberadaan matematika dalam kehidupan. 


Namun, matematika terkadang menjadi momok tersendiri untuk peserta didik. Tidak jarang kita sering mendengar ungkapan-ungakapan retoris dari peserta didik tentang matematika, kenapa kita harus mempelajari matematika? Padahal, dalam pendidikan sendiri, selain Bahasa, Matematika memberi pengaruh besar untuk pelajaran lainnya yang menggunakan ilmu dasar berhitung. 


Siswa yang tidak bisa berhitung dasar akan menjadi salah satu alasan terbesar mereka untuk tidak menyukai pengetahuan numerasi ini.


Hasil Survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan hal yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan program yang digagas The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) tersebut, tampak bahwa kemampuan matematika, sains, dan membaca pada anak Indonesia berada di peringkat rendah. 


Untuk Matematika, Indonesia berada di peringkat 75 dari 81 negara dunia, dengan skor 379. Sangat jauh dibandingkan negara ASEAN lain seperti Singapura yang menduduki peringkat 2, dengan skor 569. 


Rektor Universitas Tarumanegara Prof Agustinus Purna Irawan mengatakan ketika menilai kemampuan Matematika anak, perlu juga melihat bagaimana proses pembelajarannya di sekolah, dari TK hingga SMA bahkan perguruan tinggi. "Proses pembelajaran akan membentuk kemampuan matematika anak. Jadi harus dipastikan anak paham benar konsepnya mulai dari dasar, sebelum diajarkan konsep-konsep yang lebih rumit.” (Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/487112/).


Basecamp Matematika SMP Sukma Bangsa Bireuen


Senada dengan ungkapan Rektor Universitas Tarumanegara, basecamp Matematika hadir sebagai program untuk menuntaskan masalah anak dalam matematika. Ide ini lahir ketika beberapa guru sekolah Menengah Pertama (SMP) sering menjumpai siswa yang terkendala dengan kemampuan berhitung dasar yang berhubungan dengan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. 


Bahkan, operasi pada materi bilangan bulat maupun pecahan yang merupakan materi tingkat Sekolah dasar (SD) yang masih menjadi masalah utama untuk siswa SMP. 


Sebagian siswa kelas delapan (kelas 2 SMP) juga terkendala dengan materi aljabar dasar yang merupakan materi yang harus dikuasi oleh siswa SMP kelas VII (kelas 1 SMP). 


Materi tersebut sangat diperlukan untuk membantu mereka belajar materi lanjutan pada mata pelajaran matematika dan mata pelajaran lainnya yang menjadikan berhitung dasar sebagai pijakan awal dalam memahami materi.


Berangkat dari masalah tersebut, Forum Guru Belajar Bersama (FGBB) menjadi wadah diskusi untuk menemukan solusi. Dari diskusi ini lahirlah Program basecamp matematika di Sekolah Sukma Bangsa Bireuen. 


Program ini bertujuan mendampingi siswa yang terkendala dengan kemampuan berhitung. Sudah pasti siswa-siswa yang mengikuti program ini adalah siswa yang direkomendasikan oleh guru-guru yang mengampu mata pelajaran matematika di kelas si anak. Alasannya, guru tersebut sudah melihat langsung kendala sang anak saat dihadapkan dengan materi berhitung.


Pada pelaksanaannya, Base Camp dibagi menjadi beberapa kelompok. Jumlah kelompok ini terbentuk berdasarkan kemampuan dasar yang dimiliki siswa. 


Identifikasi kemampuan dasar diperoleh dari hasil diagnosis. Untuk kelas VII (kelas 1 SMP), basis data diperoleh dari pemetaan ketika test awal masuk SMP yang dikenal dengan istilah asesmen diagnostic. 


Selanjutnya, Siswa dikelompokkan secara homogen berdasarkan hasil pemetaan kognitif. Tujuannya memudahkan mereka belajar dari awal dengan kemampuan dasar yang sama. Materi yang diberikan guru khusus yang berkaitan dengan materi berhitung dasar, yaitu operasi pada bilangan bulat dan pecahan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.


Sementara untuk kelas VIII dan IX (kelas 2 dan 3 SMP) digabung menjadi beberapa kelompok. Basis datanya diperoleh dari hasil diskusi dengan guru basecamp sebelumnya, yaitu guru matematika dan guru Fisika di kelas. 


Selain Matematika, Fisika merupakan pelajaran di SMP yang langsung berkaitan dengan berhitung. Informasi ini diperlukan untuk mengetahui kondisi siswa di kelas berbeda dengan guru yang berbeda pula. Dipelajaran Fisika, kemampuan berhitung dasar juga merupakan modal penting untuk mendukung pembelajaran di kelas tersebut.


Kekhawatiran lainnya pun muncul untuk kelas VIII dan IX. Yang ditakutkan ketika dalam satu kelompok belajar terdapat siswa dengan tingkatan kelas yang berbeda, si anak merasa tidak nyaman sehingga akan terganggu tujuan belajar yang akan dicapai. 


Melihat pengalaman basecamp sebelumnya, kekhawatiran tersebut tidak terjadi. Di awal pertemuan, guru sudah menyampaikan alasan pembagian kelompok kepada siswa dan guru memantau perlakuan siswa di setiap pertemuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. 


Peran guru memberikan arahan kepada siswa di awal pertemuan mengenai tujuan dan harapan yang ingin dicapai untuk kemajuan siswa sangatlah penting, sehingga siswa mengetahui dan tidak berpikir negatif tentang pembagian kelompok homogen berdasarkan kemampuan awal yang dimilikinya.


Hasilnya, sampai hari ini program basecamp memberi pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan berhitung siswa. Siswa menjadi lebih percaya diri ketika mengikuti kelas matematika, fisika, dan kelas lainnya yang menggunakan hitungan dasar sebagai modal awal di kelas reguler pagi hari. 


Tentu tidak semua program berjalan sesuai rencana, diskusi sesama guru dan siswa diperlukan untuk menentukan metode terbaik demi menciptakan kelas yang menyenangkan.


Penerapan dari kemampuan berhitung ini perlu dilatih untuk mengasah kemampuan analisa siswa. Karena belajar matematika, bukan hanya sekadar penguasaan materi untuk mendapatkan hasil dari hitungan semata, tetapi lebih dari itu. 


Dengan Matematika, siswa diharap mempunyai penguasaan penalaran yang bermanfaat ketika mereka belajar pelajaran lainnya dan memecahkan masalah secara sistematis dan terkonsep dalam kehidupan sehari-harinya serta mampu berpikir kritis, logis dan cermat.[]


)* Penulis adalah Guru Matematika SMP Sukma Bangsa Bireuen.