Maichita Mutia

Oleh : Maichita Mutia, S.Pd


Dalam dunia Pendidikan, self concept atau konsep diri merupakan hal yang sangat penting untuk membentuk karakter anak. 

Selain dalam dunia pendidikan, konsep diri ini juga sangat membantu anak dalam kehidupan sosialnya. Sebagai contoh, anak yang mampu melihat kelebihan dan kekurangan dalam dirinya, serta ikhlas menerima kedua hal tersebut itulah cerminan anak yang memilki konsep diri yang haik. Lantas apa definisi dari konsep diri atau self concept itu sendiri? 


Robert Bruce (dalam https://www.gramedia.com/best-seller/konsep-diri/) mengatakan bahwa self concept adalah relasi antara sikap dan keyakinan mengenai diri individu itu sendiri. 


Budi Anna Keliat (dalam artikel yang sama) juga mengungkapkan bahwa konsep diri adalah cara pandang individu dalam memandang dirinya, baik secara utuh, fisikal, intelektual, emosional, spiritual, maupun sosial. Jadi, bisa dikatakan bahwa self concept adalah cara pandang individu terhadap dirinya sendiri yang tercermin pada sikapnya. 


Dalam hal ini, tentu orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap pembentukan konsep diri anak. Anak mempunyai ikatan emosional yang sangat kuat dengan orang tuanya. 


Konsep diri anak juga sangat dipengaruhi oleh persepsi dan tingkah laku dari orang tuanya. Selain orang tua, guru juga mempunyai andil besar untuk membentuk karakter anak yang menjadi anak didiknya di lingkungan sekolah.


Guru dan anak didiknya akan menjalin komunikasi yang intens saat berada di lingkungan sekolah. Bahkan, sebagian anak bisa menghabiskan waktu yang jauh lebih lama di sekolah dibandingkan waktu di rumahnya masing-masing. 


Secara tidak langsung pihak sekolah juga memengaruhi konsep diri pada peserta didiknya. mereka akan membentuk konsep diri nya dengan guru yang ada di sekolah. 


Suatu pelajaran dapat mempengaruhi suatu konsep diri karena faktor kompetensi, pengalaman interaksi yang diperoleh selama interaksi dengan guru, teman sebaya, interaksi dengan subjek dan lingkungan yang mempengaruhi perkembangannya. 


Dalam berinteraksi anak dapat merasakan apa yang diperolehnya selama mengikuti pembelajaran dan dapat mengkonseptualisasikan dirinya.


Mata pelajaran yang mempengaruhi konsep diri anak adalah bahasa dan matematika. 


Bahasa adalah sarana atau media untuk orang dapat memahami suatu materi yang lain karena disajikan dengan menggunakan bahasa. 


Anak yang kesulitan dalam memahami bahasa juga akan mengalami kesulitan dalam memahami mata pelajaran lainnya. 


Sedangkan Matematika adalah cara utama untuk memahami dan mengembangkan logika, yang merupakan cara memecahkan masalah sehari-hari. 


Masyarakat seringkali beranggapan bahwa anak yang tidak bisa Matematika dianggap dan dicap sebagai anak yang “bodoh”. Julukan yang diberikan ini akan masuk dan meresap dalam diri anak tersebut dan akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak tersebut. 


Akibatnya, anak takut untuk bertanya, mengungkapkan pendapat, mencoba untuk kreatif dan inovatif, serta konsep diri yang terbentuk akan bersifat negatif. 


Jika konsep diri yang terbentuk bersifat negatif maka perilaku yang muncul akan cenderung negatif dan produktivitasnya akan menurun. Begitu juga dalam belajar Matematika.


Belajar matematika membutuhkan tiga macam kemampuan, yaitu kemampuan prosedural, konseptual, dan pemanfaatan. Kemampuan prosedural melalui serangkaian urut-urutan tindakan. Kemampuan konseptual meliputi pemahaman terhadap prinsip-prinsip yang mendasari urut-urutan tindakan tersebut. Kemampuan pemanfaatan adalah mengetahui keadaan yang tepat untuk mengambil tindakan. 


Jadi, ketiga kemampuan tersebut meliputi pengetahuan bagaimana memecahkan masalah, mengapa dipecahkan dengan cara itu, dan kapan metode pemecahan masalah tersebut seharusnya digunakan. 


Kemampuan prosedural, konseptual, dan pemanfaatan bukan proses yang sederhana karena melibatkan kemampuan penggunaan simbol, abstraksi, hipotesis, dan analisis. 


Hal ini berdampak, seorang anak tidak dengan mudah untuk terampil dan menguasai Matematika. Seorang anak harus banyak berlatih supaya dapat meningkatkan kemampuan berpikir abstrak. 


Dalam berlatih, sering kali anak mengalami kegagalan dan kesalahan maka ia akan semakin frustasi, menganggap dirinya tidak mampu, dan akan cenderung menghindari pelajaran matematika. Oleh karena itu, peran guru di sekolah menjadi signifikan untuk membantu siswa mengatasi persoalan ini.


Pengalaman awal yang diberikan oleh guru yang membuat siswa menjadi tenang, tidak tertekan, termotivasi untuk belajar, dan memecahkan masalah akan menjadi dasar yang baik bagi perkembangan anak selanjutnya. 


Pengalaman tersebut bisa berupa penghargaan pada kemauan dan usaha anak, menghargai keunikan anak, memandang anak sebagai sosok individu yang positif dan mampu berkembang, serta pendampingan yang mendorong anak untuk mengalami kemajuan dan mampu memecahkan Matematika dengan bantuan benda-benda kongkret. 


Penciptaan suasana yang sehat ini merupakan upaya pemberian penguatan positif dan bergizi bagi perkembangan konsep diri anak yang sehat.


Anak dengan konsep diri positif akan mengenal dirinya dengan sangat baik. Tidak seperti konsep diri yang terlalu kaku atau terlalu longgar, konsep diri yang postif bersifat stabil dan bervariasi. 


Konsep ini berisi berbagai ”kotak kepribadian”, sehingga orang dapat menyimpan informasi tentang dirinya sendiri, informasi positif maupun negatif. 


Jadi, dengan konsep diri positif, seseorang dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bervariasi tentang dirinya sendiri.


Pembentukan sekaligus penguatan bagi konsep diri positif terhadap kemampuan diri terhadap pelajaran matematika bisa dilakukan dengan cara:


1. Memberikan suatu tantangan yaitu memberikan permasalahan yang cukup sulit tetapi pasti bisa dikerjakan oleh siswa


2. Mendorong anak untuk terus menerus mencoba memecahkan soal-soal Matematika tanpa dihantui oleh perasaan cemas karena melakukan kesalahan


3. Menghargai dan mempercayai siswa serta menghindari tanggapan-tanggapan yang bersifat merusak harga diri serta menertawakan, mengolok-olok, mencela, dan sebagainya


4. Memberikan kehangatan pada siswa berupa pengertian, pemahaman, sikap bersahabat, toleransi yang tinggi terhadap siswa, serta penerimaan. Kehangatan guru sangat berkaitan dengan prestasi, perbendaharaan kata dan aritmatika


5. Memberikan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif anak


6. Menghindari berbagai bentuk hukuman baik secara fisik maupun verbal.


Pengembangan konsep diri yang positif ditempuh melalui mendorong siswa membuat pilihan dan mengelola proses belajarnya sendiri, memelihara lingkungan belajar yang hangat dan interpersonal, mendorong siswa bekerja keras, menunjukkan kepada siswa adanya emosi dan perasaan. 


Perasaan positif siswa dikembangkan dengan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, siswa diberi pengalaman yang mengembangkan kebiasaan dan sikap positif, guru sensitif terhadap kebutuhan siswa dan guru sendiri mampu memberikan contoh sikap positif, menjadi rule model bagi siswa, sensitif terhadap perasaan orang lain, mempunyai toleransi, dapat dipercaya, dan tepat waktu.


Seseorang dengan konsep diri tinggi memiliki pemahaman yang baik tentang kemampuan dan kompetensi yang dimilikinya, memiliki citra diri dan kepercayaan diri yang baik, sehingga berdampak pada cara belajar dan melakuakan aktivitas sebagai seorang pelajar. 


Penciptaan suasana positif lebih efektif dalam meningkatkan perilaku yang diinginkan dan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Dengan kata lain, penciptaan suasana yang positif dianggap sebagai penguat bagi peningkatan motivasi belajar dan konsep diri sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar.


)* Penulis adalah guru SD Sukma Bangsa Bireuen.