![]() |
| Doc: Cut Hafsah |
Oleh: Cut Hafsah, S.Pd
Ujian merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mengevaluasi kemampuan peserta didik. Ujian yang dimaksudkan sebagai pedoman evaluasi, menjadi momok menakutkan bagi siswa dan orang tua. Untuk mendapat nilai yang memuaskan, biasanya peserta didik akan lebih fokus mengulang pelajarannya selama ujian berlangsung.
Terdapat fenomena yang terus berulang pada saat ujian berlangsung. Peserta didik akan menerapkan sistem kebut semalam, baik dalam melengkapi catatan maupun menghafal teori pelajaran. Bahkan, tak jarang orang tua yang ikutan panik dengan ujian yang dihadapi oleh anaknya. Orang tua yang seperti ini cenderung memberikan tekanan kepada anaknya agar mendapatkan nilai yang memuaskan. Keadaan ini tak jarang membuat peserta didik tertekan dan khawatir dengan hasil ujiannya.
Hasil evaluasi akan disajikan dalam buku laporan yang dikenal dengan istilah rapor. Rapor merupakan dokumen yang menjadi salah satu penghubung komunikasi antara sekolah dengan orang tua peserta didik di setiap akhir semester.
Dokumen ini juga menghubungkan sekolah dengan pihak-pihak lain yang ingin mengetahui tentang hasil belajar anak pada kurun waktu tertentu. Rapor menjadi alat ukur pencapaian siswa dalam belajar.
Peran Orang Tua
Masih banyak orang tua yang kurang memahami dengan baik setiap poin dari nilai rapor. Mereka hanya melihat tinggi dan rendahnya angka yang tertera pada bagian kognitifnya saja di dokumen tersebut. Jika angka pelajaran tertentu sudah tinggi, dirasa sudah aman. Keadaan akan berbeda jika ada pelajaran yang rendah nilainya.
Orang tua akan mengundang guru les untuk membantu sang anak memahami pelajaran tersebut. Tak jarang kita jumpai orang tua yang terlalu panik dengan nilai rapor anaknya yang rendah.
Hakikatnya, laporan berupa angka yang disajikan dalam rapor mempunyai banyak aspek selain perkembangan kognitif. Orang tua dapat mengetahui perkembangan spiritual bahkan perkembangan sosial anak.
Sebagian besar sekolah yang dikelola oleh pihak swasta meniadakan sistem penilaian dengan memberi rangking untuk peserta didik. Hal ini bertujuan supaya peserta didik tidak merasa minder dengan pencapaian teman yang lain.
Namun, sekolah swasta tetap memberi apresiasi kepada siswa yang berprestasi berdasarkan bidang studi. Tujuannya adalah untuk memudahkan pemetaan minat dan bakat peserta didik. Sistem ini juga merupakan bentuk dukungan terhadap teori multiple inteligences, dimana setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda.
Selain alasan yang dipaparkan di atas, pihak sekolah juga ingin memudahkan para orang tua dalam membimbing anaknya ke arah yang mereka minati. Namun sayangnya, masih banyak orang tua yang tidak memahami itu. Mereka masih berpaku pada sistem penilaian rangking.
Orang tua akan kalang kabut jika mendapati anaknya mendapatkan nilai rendah dalam pelajaran matematika, Bahasa Inggris atau IPA.
Mereka cenderung beranggapan bahwa anaknya lalai dalam belajar meskipun anak tersebut berhasil meraih nilai tinggi dalam bidang studi PJOK atau SBK.
Pencapaian yang ia raih terkesan sia-sia dan kurang mendapatkan apresiasi dari para orang tua. Seorang pakar peduli pendidikan bernama Ela mengatakan bahwa jika anak disbanding-bandingkan dengan orang lain, anak akan mendapatkan pemahaman yang salah tentang kompetensi dan tidak tumbuh semangat berkolaborasinya, sedangkan tujuan belajar bukan untuk mengejar peringkat, tapi untuk memahami dan punya kompetensi.
Sering kali tujuan memberi peringkat terabaikan begitu saja. Padahal esensi memberi peringkat bukan untuk membandingkan anak dengan orang lain, sampai mengorbankan anak tertentu, tetapi tujuannya agar anak menguasai pelajaran.
Tanggung Jawab Guru Kelas
Guru kelas, selaku penanggung jawab di sekolah tak jarang disudutkan oleh orang tua yang anaknya mendapatkan nilai rendah. Berbagai tuduhan dan keluhan diutarakan atas ketidakberhasilan anaknya dalam meraih nilai yang tinggi.
Permasalahan ini menjadi PR guru dan orang tua dalam membangun komunikasi demi perkembangan peserta didik. Hendaknya orang tua mengomunikasikan perihal tersebut melalui komunikasi yang efektif untuk menemukan solusi yang tepat terhadap permasalahan tersebut, seperti memberikan bimbingan tambahan di sekolah atau pun memberikan bimbingan tambahan secara privat di lembaga bimbingan belajar.
Banyak kasus orang tua hanya peduli dengan masa belajar anaknya saat akan mengikuti ujian. Anaknya seolah dipaksa untuk belajar agar memiliki nilai yang tinggi di lembar ujian, sehingga rapor pun ikut bagus. Tanpa mereka sadari, hal ini membuat tekanan mental pada anak karena ekspektasi orang tua.
Bagi anak yang memiliki ritme belajar yang bagus dirumah bersama orang tuanya, ia akan selalu siap dan tidak merasa ada beban yang harus dibawa. Pola belajar seperti ini tentu hasil yang dicapai juga akan maksimal.
Anak yang mendapat dukungan penuh dan waktu kebersamaan dengan orang tua yang tercukupi, akan menjadikannya anak yang punya mental belajar yang baik dan lebih siap dengan lingkungan luar.
Anak yang selalu didamping orang tua dalam belajar lebih punya rasa percaya diri yang baik karena merasa siap menghadapi setiap kesulitan belajar.
Pengontrolan anak dalam belajar juga menjadikan orang tua bisa mengetahui informasi apa yang anak dapat, baik dari sekolah maupun lingkungan.
Orang tua bisa memberikan arahan dan bimbingan mengenai informasi yang si buah hati dapatkan. Biarkan si kecil merasakan keluarga menjadi tempat bertanya dan belajar ternyaman agar mereka juga mau berbagi tentang hal-hal tabu yang diperoleh di luar sana.
Dengan demikian, setiap apa yang anak pelajari dapat terkontrol dan bersumber dari orang tua langsung, menjamin anak tidak menyalahgunakan informasi.
Semoga kita dapat menjadi orang tua pendukung. Bukan penuntut atas nilai akademis anak. Orang tua yang selalu mengupgrade dirinya menjadi orang tua yang bijak dan tidak egois. Mau terus belajar dan tidak merasa lebih pintar dari anaknya. Mari menjadi orang tua yang selalu bisa berpikiran terbuka.[]
)* Penulis adalah guru kelas Sekolah Dasar (SD) Sukma Bangsa Bireuen.
