Berkumpul bersama, Guestar, panitia dan pengisi acara

INFO BIREUEN — Backkaru Fest merupakan agenda perdana yang di selenggarakan oleh Komunitas BackKaru di awal tahun 2023. Beranjak dari ide sederhana untuk menciptakan ruang atau wadah untuk kawan-kawan yang bergerak dibidang seni dan kearifan lokal. BackKaru Fest hadir di Desa Geulanggang Gampong untuk menampung minat dan bakat pemuda yang ingin bergerak dan berkarya bersama (04/01/2022).


Sesi Diskusi Bincang Seni

Dalam perhelatan pertama ini BackKaru Fest 2023 turut menghadirkan Daurbunyi dari Banda Aceh dalam agendanya "Menjarah Kota-Kota Tour Dua Babak 2022-2023" yang sudah melaksanakan perjalanan tour sound arts nya mulai dari Jakarta Selatan, Tangerang, Depok, Bekasi, Cileungsi, Jakarta Timur, Bogor, Sukabumi, Bandung, Tanjungsari, Purwokerto, Yogyakarta, Klaten, Solo, Medan, Kuala Simpang, Lhokseumawe dan Bireuen menjadi titik tournya ke 23. Dalam kegiatan ini turut juga menampilkan Diskusi Seni, Performing Arts Talent Lokal Bireuen, Pameran Rupa-rupa, dan Lapakan UMKM Pemuda Aceh.


Setting alat dan persiapan performing arts

Daurbunyi berbasis di Aceh, Indonesia. Daurbunyi adalah proyek solo eksperimental musik yang berupaya mengembangkan pengalamannya dalam komposisi musik. Mengambil berbagai macam suara yang hadir di sekelilingnya, lalu suara itu didesain ulang menggunakan Software komputer menjadi bebunyian baru yang pada akhirnya dimasukan kedalam penggarapannya.


Sound Art Performing

Daur Bunyi sendiri merupakan musik eksperimental pertama di Aceh, dimana daur bunyi berusaha mendaur bunyi-bunyi yang ada di sekitar kita yang seharusnya itu menjadi musik yang tidak ber _pakem_ pada musik pada umumnya. 


Dana Maulana sang pencetus Daur Bunyi mengatakan "Daurbunyi menganggap sebuah objek mati (kebendaan) akan menyentuh hukum halal dan haram jika ada kuasa manusia dalam menggunakan kebendaan tersebut. Selain itu, fokusnya terhadap proses penciptaan instrument juga satu bentuk usaha dalam menerobos pakem-pakem instrumen mainstream yang telah ada dan di legitimasi".


Dalam komposisinya, Daurbunyi ingin menerjemahkan pandangan politik dan berbagai macam keresahan yang ia alami kedalam bahasa musik.


Melalui medium eksperimental bunyi dan eksplorasi suara, Daurbunyi merasakan langsung luasnya peran musik dalam kehidupan manusia terutama dalam menyampaikan pesan. Ini juga menjadi alasan kuat untuk Daurbunyi yang ingin melepaskan diri dari genre-genre musik yang telah ada.


Dijumpa di lokasi acara, Agus Milanda atau lebih akrab disapa Abu selaku penanggung jawab acara mengatakan bahwa "ini adalah hal yang sangat bagus, sebagai pemantik bagi pegiat-pegiat seni yang ada di Aceh, khususnya Kota Juang, Bireuen".


Lapakan bazar UMKM

Backkaru Fest ini diharapkan juga bisa terus ada dan semakin tumbuh dan berkembang guna menampung berbagai kreatifitas yang dimiliki oleh masyarakat Aceh, harap Riki/Bg Ah selaku panitia acara ditemani oleh Sultan Refi dan Sarah Faradila.


Penulis: Alan Kiteng, Rasyidin Wig Maroe dan Syafri Cello