![]() |
| Liza Faradilla |
Oleh: Liza Faradilla, S.Pd
Hampir semua orang membenarkan pernyataan bahwa kedudukan manusia setara atau sama dihadapan yang Maha Kuasa. Terlahir dengan gender, ras atau suku tertentu tidak lantas membuat satu golongan menjadi lebih istimewa. Namun, kenyataan yang terjadi dalam masyarakat berkata lain.
Menjalani hidup sebagai seorang perempuan, faktanya memberikan lebih banyak tekanan. Perempuan sering merasakan ketidakadilan dan disudutkan serta dituntut untuk memenuhi standar tertentu hanya karena ia bergender perempuan.
Pernyataan seperti “perempuan harus bisa masak supaya bisa ngurusin suami, perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi, nanti juga bakal jadi ibu rumah tangga” menjadi slogan yang sering sekali ditemui di kehidupan sehari-hari baik itu di media sosial, di lingkungan sekolah, bahkan di lingkungan rumah.
Secara tidak langsung, ungkapan tersebut memberi gambaran bahwa perempuan harus senantiasa menjalani hidupnya sebagai bayangan laki-laki. Standardisasi “bisa masak” juga terkesan sebagai standar yang harus dipenuhi oleh perempuan saja. Hakikatnya, hal tersebut merupakan basic life skill yang harus dimiliki manusia, baik laki-laki maupun perempuan.
Perempuan yang memiliki jenjang Pendidikan tinggi juga sering mendapat pandangan miring dalam sebagian besar masyarakat. Mereka sering diklaim susah mendapatkan pasangan hidup karena kaum laki-laki menjadi minder. Lagi-lagi konsep tersebut menyudutkan perempuan untuk tidak memiliki power yang lebih besar dibandingkan laki-laki.
Pengalaman ketidakadilan dan ketimpangan serta standar berlebihan yang diterima oleh mayoritas perempuan merupakan tindak dari paham seksisme.
Konsep Seksisme
Kata "seksisme" mulai dikenal luas sejak gerakan pembebasan perempuan atau Women's Liberation Movement pada tahun 1960-an.
Sebuah gerakan untuk memperjuangkan hak dan peluang yang sama dan kebebasan pribadi yang lebih besar bagi perempuan. Menurut Oxford Dictionary, kata Sexism didefinisikan sebagai “the unfair treatment of people, especially women, because of their sex; the attitude that causes this”.
Seksisme merupakan sebuah perlakuan tidak adil terhadap satu golongan tertentu terutama perempuan. Perlakuan tersebut terjadi karena disebabkan oleh gender mereka.
Sementara itu, kata sexism dalam Cambridge dictionary dijelaskan sebagai an action based on the belief that the members of one sex are less intelligent, able, skillful, etc. than the members of other sex, especially that woman are less able than man. Sebuah paham kepercayaan dimana satu golongan tertentu (baik perempuan maupun laki laki) kurang unggul dibandingkan dengan golongan lainnya.
Singkatnya, seksisme adalah sebuah paham yang meyakini bahwa perempuan tidak lebih unggul dari pada laki-laki atau keyakinan bahwa laki-laki masih lebih tinggi derajatnya dari perempuan.
Kendati paham seksisme dapat menjangkiti laki-laki, namun paham seksisme dalam masyarakat paling sering dirasakan oleh perempuan. Hal tersebut terkesan dilestarikan untuk mempertahankan patriarki, atau dominasi laki-laki, melalui praktik ideologis individu, kolektif, maupun institusi. Sikap seksis melanggengkan stereotipe peran sosial yang berdasarkan jenis kelamin.
Secara tradisional, konsep seksis mengajarkan narasi khusus tentang peran gender. Pandangan seperti perempuan lemah dalam ranah logika dan penalaran rasional sehingga tidak cocok menjadi seorang pemimpin. baik dalam bisnis, politik maupun akademis.
Sebaliknya, secara alami mereka dipandang cocok untuk pekerjaan domestic dan caretakers, peran mereka diremehkan atau tidak dihargai sama sekali jika dibandingkan dengan pekerjaan laki-laki.
Internalisasi paham seksisme
Menariknya, saking lumrah terjadi paham seksisme ini di tengah-tengah masyarakat, perempuan sendiri yang notabenenya sebagai objek bisa merasa tidak ada yang salah dengan condescending treatments (read: sikap merendahkan) yang mereka alami.
Mereka menganggap itu sebagai hal yang memang sudah sewajarnya terjadi bahkan pada akhirnya tidak sedikit perempuan yang menginternalisasi paham seksisme.
Sikap internalisasi tersebut timbul akibat justifikasi gender-based roles yang sudah mendarah daging dalam tatanan sosial. Berbagai pengelompokan tugas dan peran sudah diajarkan sejak usia dini. Misalnya, Anak perempuan main boneka dan anak laki-laki main mobil-mobilan. Ketika secara terus menerus terekspos dengan perilaku dan bahasa seksis, mereka akan mulai menginternalisasikan kepercayaan tersebut. Tidak heran, jika akhirnya laki-laki juga mempunyai paham bahwa mereka memiliki power atas perempuan.
Salah satu akibat yang sangat merugikan dari seksisme yang terinternalisasi adalah mereka cenderung tidak akan melawan penindasan yang mereka terima. Mereka bahkan akan mulai bergabung ketika orang lain terlibat dalam seksisme. Namun, ini bukan kesalahan mereka. Terlibat dalam seksisme sering kali berasal dari keinginan untuk merasa aman dan "cocok" dengan masyarakat patriarki.
Perempuan berkarier dijudge menelantarkan anak dan suaminya, sedangkan laki-laki berkarier dianggap husbandgoal. Perempuan yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga dikritik sebagai beban suami, sementara laki-laki yang tidak bekerja dimaklumi karena terbatasnya lowongan kerja. Perempuan memakai baju kelonggaran dianggap tidak menarik, tapi dianggap nakal jika memakai baju terbuka. Perempuan tidak bisa dandan dikatai tidak bisa mengurus diri, malah dikatai sebagai penggoda saat berdandan.
Perempuan memakai cadar dikatakan oppressed, tapi dilabeli tidak paham agama saat tidak memakai jilbab. Perempuan ngemong anak memang hal yang wajar, laki laki yang ngemong anak dipuji sebagai husband material dan ayah yang bertanggung jawab. Belum menikah di usia 30 tahunan dianggap “tidak laku” sementara laki-laki dianggap sedang mempersiapkan diri. Perempuan diminta untuk tidak terlalu pintar atau sukses karena nanti sulit dapat jodoh. Victim blaming pada kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Dilabeli sekuler, liberal, dan tidak paham ajaran agama jika menuntut equality. Rentetan praktik seksisme ini merupakan paham yang sudah dibangun dalam persepsi masyarakat dan sudah sepatutnya untuk dirobohkan.
Merobohkan praktik seksisme penting untuk pemberdayaan semua orang tanpa memandang jenis kelamin atau gender. Menyepelekan seksisme akan membuat kita menerima atau endorsing idea of system itu sendiri dan secara tidak langsung akan makin melanggengkan gender inequality.
Mengatasi Seksisme
Melawan Seksisme tentu tidak mudah, apalagi jika hidup di tengah-tengah masyarakat yang menjunjung patriarki dan menganggap perempuan sebagai makhluk kedua (the second sex).
Namun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Hal mendasar yang harus dilakukan untuk melawan Seksisme adalah mengidentifikasi praktik itu sendiri.
Identifikasi menjadi sulit jika sudah ada internalisasi nilai-nilai kultural atau religius yang diyakini. Hal ini tidak bisa disalahkan karena masing-masing individu tumbuh berkembang dengan susunan nilai masing-masing.
Untuk bisa melawan Seksisme, ada dua hal yang harus diyakini. Pertama, laki-laki dan perempuan memang memiliki tugas dan peran masing-masing. Kedua, perbedaan tugas dan peran tersebut tidak membuat peran salah satunya lebih penting dari peran lainnya. Jika dua hal tersebut sudah terinternalisasi, praktik Seksisme bisa dilawan, baik di rumah, sekolah, lingkungan kerja, maupun di tengah-tengah masyarakat.
* Penulis adalah Guru Bahasa Inggris Sekolah Dasar Sukma Bangsa Bireuen
