Mukhlisanur

Oleh: Mukhlisanur


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.


Pendidikan bukan sesuatu yang menakutkan dengan banyaknya teori yang harus dihafalkan dan dipelajari. Pendidikan hendaknya menjadi tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai bapak pendidikan nasional memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya.


Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuh kembangnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Untuk mencetak generasi yang produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul membutuhkan sarana yang dapat menfasilitasi tujuan tersebut. Salah satu sarana yang dapat memenuhi target tersebut dengan menghadirkan lembaga Pendidikan, baik Pendidikan formal maupun nonformal.


Khusus dalam Pendidikan formal, guru menjadi salah satu faktor penentu tercapainya tujuan yang dimaksud karena guru merupakan komponen terdekat dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar. 


Guru sebagai Pendidik diharapkan tidak hanya mampu melakukan transfer of knowledge tetapi juga harus memilki kemampuan yang lebih krusia, yaitu transfer velue of khowlage untuk menunjang peserta didik yang lebih beradab.


Masih teringat jelas ungkapan seorang siswa SMA tentang pendidikan jarak jauh saat pandemi memporak-porandakan hierarki kehidupan dunia saat itu. Dia mengatakan bahwa guru itu sosok yang ditiru dan digugu. Kalau pintar, google jauh lebih pintar daripada guru karena guru hanya memahami satu bidang studi yang di kuasainya saja, sedangkan google semua bisa.


Namun, kelebihan guru yang tidak bisa digantikan oleh google adalah guru mengajar dengan hati dan penuh perasaan, mereka itu mendidik, dan membentuk karakter peserta didik. Itu penggalan ucapan yang menggemparkan jagat pendidikan Indonesia saat itu.


Direferensi lainnya juga ditemukan bahwa dizaman modern dengan kecanggihan teknologi banyak profesi dapat digantikan oleh mesin, tapi tidak dengan profesi guru. Hal ini dikarenakan guru menjadi model dalam memanusiakan manusia.


Sejatinya, guru seperti itulah yang diharapkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Selain menjadi guru, ada tugas tambahan yang dipercayakan oleh manajemen sekolah kepada guru tertentu, yaitu menjadi wali kelas. Wali kelas itu memiliki kedekatan yang sangat erat dengan peserta didik dibanding dengan guru bidang studi.


Wali kelas layaknya orang tua dalam sebuah tatanan keluarga. Biasanya, orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anak-anaknya di rumah. Karena kedekatan tersebut, mereka biasanya lebih tahu perkembangan anaknya dibandingkan orang lain. Begitu pula dengan wali kelas, biasanya wali kelas lebih tahu karakter peserta didiknya dibandingkan guru mata pelajaran atau guru bidang studi.


Hal ini disebabkan oleh intensnya komunikasi atau rasa kekeluargaan yang terjalin dalam kelas tersebut. Menjadi orang tua bukanlah persoalan mudah, sama hal nya dengan wali kelas.


Wali kelas mempunyai peran dan fungsi ganda sebagai perpanjangan tangan pihak sekolah sekaligus wakil dari keseluruhan orang tua atau wali muridnya. Tugas wali kelas bukan hanya pada urusan membagi rapor dan mengomentari perkembangan peserta didik yang akan disampaikan kepada orang tua (wali murid) di akhir semester.


Selain tugas administratif seperti yang disebutkan tadi, tugas wali kelas bersifat bimbingan, baik itu bimbingan akademik maupun bimbingan perkembangan kepribadian peserta didik. Sebagai perpanjangan pihak sekolah, wali kelas adalah guru yang membantu kepala sekolah untuk membimbing siswa dalam mewujudkan disiplin kelas dan motivator untuk membangkitkan gairah atau minat siswa untuk prestasinya.


Hal tersebut senada dengan pendapat Soetjipto (2011:102) wali kelas merupakan personal sekolah yang ditugasi untuk menangani masalah-masalah yang dialami oleh siswa yang menjadi binaannya. Ini berarti bahwa seseorang wali kelas harus memimpin kelasnya yang tidak hanya terbatas dalam kelas tetapi juga di luar  kelas. Jadi, tidak berlebihan jika wali kelas disebut sebagai orang tua kedua untuk peserta didiknya.


Wali kelas harus memahami kondisi siswanya secara mendalam. Mulai dari karakter dan kepribadian, kondisi sosial, juga ekonomi. Wali kelas tampil sebagai orang tua yang senantiasa memperhatikan dan memberi pendampingan yang merata terhadap semua anak didiknya.


Hal paling penting lainnya sebagai orang yang dipercayakan oleh manajemen sekolah untuk menjadi nahkoda di kelas itu adalah kemampuan berkomunikasi dengan orang tua siswa (wali murid). Tidak dipungkiri, mungkin setiap kali orang tua menerima panggilan ke sekolah, yang terpikir olehnya, “Ulah apalagi kali ini?” Pola pikir yang seperti ini membuat orang tua enggan menghadiri pertemuan dengan wali siswa.


Untuk menghindari kejadian seperti itu, permasalahan anak di kelas sebaiknya diselesaikan saja di kelas antara anak wali dan wali kelasnya. Jika wali kelas tidak menemukan solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut, masih ada guru Bimbingan Konseling atau wakil kepala sekolah bagian kesiswaan yang bisa menjadi teman sharing wali kelas untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Alangkah baiknya, wali kelas yang sudah diberi tugas sebagai penghubung antara pihak sekolah dan orang tua dapat melakoni tugasnya dengan baik. Wali kelas tidak melulu mengabarkan berita negatif terhadap perkembangan anak didiknya. Pasti ada hal positif dari seorang peserta didik jika wali kelas jeli melihat atau memerhatikan perkembangan peserta didik. Hal positif inilah bisa menjadi bahan pembicaraan wali kelas untuk berbicara dengan wali murid.


Jadi, sebagai wali kelas yang menjadi perpanjangan tangan pihak sekolah harus benar-benar bisa menjadi orang tua kepada peserta didik dan rekan kerja sama dengan wali murid untuk memberikan pendidikan yang sebenarnya kepada anak didik.


Sementara bagi anak, wali kelas harus terkesan menjadi guru yang senantiasa dekat, perhatian, bisa dipercaya, dan memiliki keakraban yang positif dengan mereka. Patut disayangkan kalau peran dan tugas menjadi wali kelas dilakukan seadanya tanpa semangat dan tidak bisa mengayomi anggota kelasnya.


Tugas menjadi wali kelas dinilai tidak berhasil jika seorang guru tidak mengenal jumlah anak-anaknya, asal usul bahkan identitas mereka. Lebih parah dan menyedihkan jika seorang wali kelas tidak pernah hadir dan tidak diketahui oleh anak didiknya.


Seharusnya, Guru yang ditunjuk menjadi wali kelas harus siap dan mampu menjalankan tugas dan perannya secara bertanggung jawab dan tulus ikhlas. Wali kelas diberi kesempatan untuk berkreasi dan berinovasi untuk memajukan dan mengembangkan kapasitas dan talenta anak walinya. Wali kelas harus tampil menghadirkan gairah dan semangat akademis yang menyala kepada anak didiknya. Guru yang menjadi wali kelas harus mampu menjaga ritme dan disiplin belajar anak walinya.


Banyak studi membuktikan peforma wali kelas akan dapat dinilai dari tingkah laku siswa yang menjadi walinya. Sehingga dapat dipahami bahwa menjadi seorang wali kelas memiliki tanggu jawab yang lebih dari pada guru pelajaran biasanya, yaitu tanggung jawab mengajar, kedekatan emosional dan juga moral.


Selain itu, wali kelas juga menjadi jembatan antara manajemen sekolah dengan wali murid sehingga tidak semua guru dapat ditunjuk sebagai wali kelas. Guru yang memiliki nilai dedikasi yang tinggi untuk dapat mengayomi kebutuhan perkembangan peserta didik yang lebih berilmu dan beradab itulah guru yang dapat mengemban tugas tambahan menjadi wali kelas. Karena itu, jangan menganggap remeh dengan tugas dan peran yang ada dalam diri wali kelas.


* Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia SMA Swasta Sukma Bangsa Bireuen