![]() |
| Siswa dan para Guru melakukan foto bersama di depan gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) 20 Peudada, Bireuen (Foto: Istimewa) dilansir dari anteroaceh.com |
BIREUEN – Selama tujuh tahun dibuka hingga saat ini, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 20 Peudada yang terletak di wilayah Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) lokal, Dusun Alu kuta Gampong Cot Kruet, Kecamatan Peudada Bireuen, hanya memiliki 10 orang murid. Letaknya yang berada dikawasan terpencil dengan akses jalan yang tidak memadai, menjadi beberapa faktor penyebab sekolah tersebut kurang diminati.
Menurut Kepala Sekolah SDN 20 Peudada, Abdul Gani, selain akses jalan yang sulit, kurangnya penduduk diwilayah tersebut juga menjadi salah satu faktor sekolah itu sepi peminat. “Kurangnya siswa di sekolah tersebut terjadi pada setiap tahunnya semenjak sekolah ini diresmikan pada tahun 2015,” ujarnya.
Daerah ini, kata Abdul, merupakan daerah terpencil yang jumlah penduduknya hanya mengandalkan wilayah Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT). Sementara itu, penduduk diwilayah UPT setiap tahunnya semakin berkurang karena pulang kekampung halaman mereka.
“Hal itu dikarenakan akses jalan di wilayah tersebut sangat tidak memadai, dengan demikian jika penduduk sering pulang ke gampong halamannya terus, siswa disini juga semakin berkurang,” tambahnya.
Dari informasi yang himpun awak media, masyarakat yang tinggal disekitaran wilayah tersebut hanya berjumlah 151 KK, namun tidak semua kepala keluarga menetap disana. Letaknya juga jauh dari pemukiman penduduk lain dan merupakan salah satu wilayah pertanian di Bireuen.
![]() |
| Suasana belajar mengajar di SDN 20 Peudada Bireuen yang hanya diisi oleh sejumlah murid (Foto: Istimewa) |
Sekolah ini berjarak sekitar 9 KM dari jalan nasional Medan-Banda Aceh dan sekitar 22 KM dari pusat Kota Bireuen. Jarak yang tidak terlalu jauh, namun akses jalan 9 KM tersebut tidak semulus yang dibayangkan. Hanya ada sekitar 4 KM jalan menuju ke sana yang layak untuk dilalui pelintas, yaitu jalan yang berada di kawasan Gampong Cot Kruet, selebihnya hanya jalan perbukitan bebatuan rusak parah dan belumpur yang sering dipakai untuk penurunan hasil pertanian di daerah tersebut.
Akses jalan menuju sekolah, ternyata juga tidak setiap hari bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Saat musim hujan, jalanan menjadi licin dan berlumpur yang membuat para guru hanya bisa sampai setengah jalan. Jika guru tidak bisa tiba ke sekolah, dengan terpaksa dihari itu tidak ada aktifitas belajar mengajar.
Untuk diketahui, saat ini ada 10 guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) beserta 6 guru honorer yang mengajar disana, dan para guru biasanya membagikan jadwal mengajar mereka, agar semua guru dapat bergantian mengajar semua mata pelajaran.
Sementara itu, jumlah siswa disana hanya 10 orang dengan dengan rincian, kelas satu berjumlah 3 murid, kelas dua hingga kelas lima masing-masing hanya satu murid dan kelas enam sebanyak 3 murid. Ada sekitar 5 murid yang telah lulus, dan murid yang telah lulus merupakan murid pindahan dari sekolah lain. Biasanya di jam pelajaran tertentu, semua murid disatukan dalam satu ruangan.
Salah seorang guru, Fitriani kepada awak media bercerita, untuk bisa sampai ke sekolah tersebut sangat banyak rintangan yang dilaluinya. Mulai dari sepeda motor yang rusak saat menaiki tanjakan, bahkan ada yang sampai terjatuh saat naik dan turun ditanjakan. Para guru biasanya pergi bersama-sama agar bisa saling bantu membantu jika ada musibah.
“Sangat sulit memang untuk bisa sampai kelokasi tersebut karena kami menghindari adanya musibah, biasanya motor yang kita kendarai rusak dan ada juga yang terjatuh saat menaiki tanjakan dan turunan yang licin saat hujan, dan kami juga takut karna disaat pagi biasnya kami menjumpai babi hutan yang menyebrangi jalan,” ungkap Fitriani.
Ia berharap, akses jalan menuju ke sekolah itu dapat diperbaiki agar bisa dilalui disegala macam cuaca bahkan disaat hujan deras.
![]() |
| Salah seorang guru yang melintasi jalan menuju sekolah tidak mengenakan baju dinas lantaran takut kotor, dan hanya mengenakan baju dinasnya ketika diba ke sekolah (Foto: Istimewa) |


