Haji Abu Bakar Bin Ibrahim Bin Salem Bey seorang tokoh Darul islam Bireuen yang Hijrah dari turki ke Aceh tahun 1919 ketika Khalifah Othoman Turki di kalah kan oleh tentara sekutu Inggris Prancis dan Italia dalam perang dunia pertama.

Haji Abu Bakar seorang pejuangan sekaligus saudagar penyantun sekolah Normal school Bireuen yang didirikan oleh Tgk Daud Beureueh dkk pada masa Kolonial Belanda.

Pada masa penjajahan Jepang Abu bakar diangkat sebagai Gunco Bireuen.
Tokoh PUSA Bireuen keturunan Turki ini juga termasuk salah seorang penyandang dana dan aktifis NII.

Teungku H. Abubakar, salah seorang pemimipin Darul Islam dan saudagar di Bireuen. Beliau ikut bergerilya bersama Majelis Syura Negara Islam Indonesia Wilayah Aceh. Pada 11 Maret 1974, Tengku Hasan di Tiro menulis surat kepada sdr. Marzuki anak dari Tengku Abu Bakar untuk memberitahukan kepulangannya ke Aceh. Tahun 1976, Kemudian Tengku Hasan mendeklarasikan Aceh Merdeka.

Kini anak cucu Haji Abu bakar yang tersebar seluruh indonesia pada tahun 2018 mendirikan sebuah museum di Bireuen sebagai bentuk pengabdian terhadap tanah kelahirannya.

MUSEUM KOTA JUANG BIREUEN

Berupa Rumah Tradisional Aceh, di sebelah kiri dan, Duplikasi Meuligo/Pendopo Bireuen, di kanannya. yang terletak di 'Lampoh Jrat' (Tanah Makam) H. Abubakar Bin Ibrahim Bin Salem Bye Ditengah-tengahnya terdapat makam H. Abubakar, istrinya dan putranya H. Marzuki serta beberapa kerabat lainnya.  
Museum ini Bukan hanya menampilkan Ketokohan H. Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bye. Namun, Museum Kota Juang Bireuen: Menghimpun jejak para Tokoh dari Bireuen, yang pernah berkarya untuk Bireuen, Aceh dan Indonesia, Lukisan dan catatan sejarah mereka yaitu, Para Pejuang, Ulama, Pendidik, Budayawan, Seniman, Pengusaha dan Olahragawan yang telah merajut kemaslahatan agama, bangsa dan negara pada masanya.

Sumber : @atjehgallery